aku duduk termangu menatap
handphoneku yang sedari tadi berdering, melihat nama yang tertera dilayar
handphoneku membuatku malas mengangkat telefon itu. Berkali-kali handphone-ku
berdering, berkali-kali pula aku mematikannya dengan sengaja. Rasanya aku ingin
sekali menghancurkan benda itu.
Orang
itu tak pantang menyerah bukan hanya menelefonku, ia juga terus mengirimku
pesan singkat yang sangat jelas tidak akan kubaca. Pesan itu menumpuk dikotak
masuk handphoneku tanpa kubuka satupun. Aku sangat malas saat ini bertemu atau
berbincang dengannya.
Rio.
Ya, laki-laki itu adalah Rio, kekasihku dari dua tahun yang lalu. Laki-laki
yang menurutku membosankan, tidak perhatian dan juga selalu menjaga imagenya
agar terlihat selalu baik. Hubungan kami datar. Sangat datar. Itu yang
membuatku sangat malas untuk bertemu dengannya padahal beberapa hari lagi
adalah peringatan hari jadi kami yang ke-3. Aku bisa menebak dia tidak akan
melakukan apapun untuk hari yang menurut semua orang spesial itu.
Rio
hanya mengucapkan ‘happy anniversary’
dan setelah itu tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kalau aku
mencoba mengingat-ingat hal spesial apa yang dia lakukan padaku? Yap tentu,
saja jawabannya ‘nothing special to be
your girl.
Aku
akui Rio tampan, pintar dan juga suaranya sangat bagus. Tapi lebih dari itu Rio
bukan apa-apa untukku. Dia tidak mengerti memperlakukan aku dengan baik. Disaat
aku marah ia hanya diam bahkan kadang ia pergi meninggalkanku yang sedang naik
darah. bahkan aku meragukan ia menyayangi aku atau hanya sedang bermain-main
denganku, karena Rio tidak pernah menciumku seperti yang dilakukan pria lain
kepada kekasihnya. Dia memang benar-benar membosankan.
“Lea…….”
Suara mama terdengar dibalik pintu kamarku.
“iya
ma?”
“tadi
Rio nelfon kerumah, dia pesen ke mama buat ngangkat telefon dari dia” mama
bicara tanpa membuka pintu kamarku.
“okee
ma” jawabku seakan tidak ingin mama tahu tentang kejahatan anaknya ini, tidak
memberi kabar pada Rio selama tiga hari.
Mataku melirik
handphone-ku yang tergeletak dan tidak berbunyi lagi, rasa penasaran mengelabui
hatiku untuk melihat pesan-pesan yang Rio kirim. Aku mengambil handphone-ku dan
menggenggamnya untuk beberapa saat. Baca atau tidak? Baca? Tidak! Aku tidak
akan membaca pesannya, Rio harus diberi pelajaran. Dia harus mengerti gimana
rasanya tidak diperhatikan.
Aku menaruh
kembali handphoneku diatas kasur dan bersiap-siap mandi untuk pergi hang out
dengan Sarah sahabatku. Dari kamar mandi aku dapat mendengar ringtone
handphoneku kembali berdering, aku hanya tertawa puas melihat kekhawatiran Rio.
Setelah mandi aku
berdandan secantik mungkin dengan dress hitam selutut dan sepatu heels hitam
yang dihiasi glitter pemberian Rio. Aku memakai ini bukan karena pemberian Rio
tapi karena aku sangat menyukai desain sepatu ini dan kebetulan cocok dengan
bajuku.
Tiba-tiba
terdengar lagi handphoneku berdering, aku melihat siapa yang menelfon, apakah
itu Rio? Bukan itu bukan telfon dari Rio akan tetapi dari Sarah.
“hallo Sar, aku
udah siap nih” aku mengangkat telefon dengan riang.
“Lea! Rio…
kecelakaan!!! Dan dia meninggal ditempat” jawaban Sarah dari ujung sana membuat
seluruh badanku kaku. Aku tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
Aku segera
menghubungi handphone Rio. Berkali-kali tidak ada jawaban. Akhirnya aku
memutuskan untuk menelfon orangtua Rio dan mereka mengatakan hal yang sama.
Batinku terasa sakit, airmataku turun tak terkendali, dadaku sesak.
Tiba-tiba aku
teringat pesan dari Rio yang sengaja tidak aku buka. Aku menguatkan diriku
untuk membuka pesan-pesan tersebut.
2
hours ago
From : Rio
·
Angkat
telefon aku….
·
Kamu
kenapa gak ada kabar sih?
·
Aku ingin
denger suara kamu Lea L
·
Lea, aku
tau aku adalah laki-laki yang membosankan untuk kamu. Tapi satu hal yang kamu
harus tau ‘aku sayang banget sama kamu’. Maafin aku yang gak pernah menjadi
pria romantic yang gak pernah bisa mencium kamu, kamu harus tahu Lea, kamu
adalah wanita spesial untuk aku dan aku tidak akan pernah menyentuh kamu. Aku
sedih melihat kamu marah karena aku telah mengecewakanmu berulang-ulang, aku
tau diri dan pergi agar kita tidak bertengkar. Tapi kamu harus tahu ‘jangan
pernah meragukan rasa sayang aku sama kamu’. Aku memang bukan laki-laki yang
pandai merangkai kata-kata seperti yang kamu ingin kan tapi aku adalah
laki-laki yang akan merangkai kata-kata ijab qobul didepan ayahmu.
“Rio….”
Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Aku berharap dengan aku memanggil
namamu kau akan kembali. Aku berharap ini semuanya hanya mimpi dan saat aku
terbangun Rio ada disampingku.
Seketika memori bersama melintas
difikiranku. Rio selalu marah saat aku menjadi pusat perhatian laki-laki lain
karena rok ku yang terlalu pendek, sesegera mungkin ia akan menutupi kaki
indahku dengan jaket miliknya, Rio selalu berkorban untukku terutama saat aku
sakit ia rela datang kerumahku disela istirahat kerjanya hanya untuk membawa
makanan favoritku dan juga memastikan aku meminum seluruh obatku.
“Rioooooo!!!”aku tidak bisa
membendung tangisku, aku ingin bercerita pada malaikat agar membimbingmu
kembali.
4
hari berlalu setelah kepergian Rio, aku masih belum bisa menerima kenyataan
bahwa hari ini Rio tidak didunia lagi. Setiap hari aku selalu memainkan
lagu-lagu favorit Rio hanya untuk membunuh rinduku padanya.
Tok…tok….tok….
“Lea,
ini ada kiriman paket tadi pagi buat kau” mama diluar sana beberapa kali
mencoba mengetuk pintu kamarku.
Dengan
sedikit lunglai aku berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarku. Aku
melihat wajah mama yang terlihat sangat khawatir melihat keadaanku. Mama
memberikan dua kotak besar itu ketanganku.
Aku
kembali menutup pintu kamarku, aku meletakan dua kotak tersebut diatas kasur.
Siapa yang mengirim hadiah disaat aku sedang berduka? Rasa penasaranpun membuat
aku membuka kotak pertama yang bewarna ungu.
‘Happy Anniversary ke-3 My Lea Diandra’
itu tulisan diatas sebuah cake tiramisu favoritku. Rio? Apakah Rio masih hidup?
Tidak mungkin, aku sendiri melihat jasadnya masuk kedalam tanah saat itu. Siapa
yang mengerjainya seperti ini?
Lea membuka kotak yang
lebih kecil dari yang sebelumnya. Didalam kotak tersebut ada sepasang boneka
Teddy Bear dan sebuah kepingan CD. Lea segera mengeluarkan kepingan CD tersebut
dan memasukannya kedalam DVD playernya.
“Rio?”
ya Rio yang berada didalam layar televisinya.
“Happy Anniversary yang ke 3!!!! Aku tahu
saat hadiah-hadiah ini sampai kerumah kamu, kamu masih marah sama aku makanya
aku nyiapin ini buat kamu. Aku harap kamu gak marah lagi setelah liat video ini
yah. Di tahun ke 3 bareng kamu ini aku bakalan bilang alasan kenapa aku bisa
jatuh cinta pada Lea Diandra. Pertama, Lea pemarah. Kedua, Lea jarang
tersenyum, ketiga Lea itu gak jago masak dan semua hal itu buat seorang Rio
Antanegoro jatuh cinta. Dan aku sangat suka saat Lea memakai Dress bewarna
hitam dengan sepatu pemberianku persis saat makan malam anniversary kita yang
pertama walaupun perut kamu kelihatan buncit dengan dress itu tapi aku suka.
Aaah satu lagi ini adalah kado terakhir aku divideo ini. Aku akan mainin satu
lagu buat kamu lagu dari Adelle- to make
you feel my love”
Suara Rio menyanyi sangat membuatku rindu padanya. Kenapa kamu mencintai
kekuranganku Rio? Kenapa kamu gak pernah bilang kalau aku seperti itu. Ini
bukan kado terakhir divideo tapi ini adalah kado terakhir untuk selama-lamanya.
Rio apakah aku terlambat untuk mengatakan aku
sangat mencintai kamu karena kamu adalah satu-satunya pria yang mencintai
kekuranganku?
Finn.