Kamis, 07 Mei 2015

life never be hard when you thankful

angin kencang menerpa tubuh Diana sehingga menggoyahkan tubuhnya, Diana mencoba untuk meyeimbangkan tubuhnya, jika saja dia tidak berdiri dengan benar mungkin saja nyawa nya adalah taruhannya.

diana menutup matanya merasakan belaian dingin angin malam, apakah ini keputusan yang tepat tanya batinnya, masih adakah sedikit kesempatan untuknya. Perlahan Diana membuka matanya dan melihat keindahan malam dari atap gedung apartment-nya yang berlantai 30 ini, apakah ini terakhir kalinya dirinya melihat keindahan lampu-lampu kota Jakarta?

Ia menarik napas dalam-dalam meyakini bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk pergi dari kehidupan dunia yang sangat kejam ini. Diana mulai melangkahkan kaki-nya mendekati dinding pembatas dan bersiap untuk melompat. Namun terdengar suara laki-laki tertawa, apa mungkin malaikat maut sudah datang padanya?

suara laki-laki itu semakin jelas terdengar, Diana menoleh dan melihat sesosok laki-laki dengan kemeja putih yang tidak begitu ketat ditubuhnya, laki-laki itu terus tertawa terbahak-bahak. Diana bertanya-tanya apakah laki-laki itu tengah menertawakannya? Tapi kenapa dia harus tertawa, bukannya seharusnya laki-laki itu melarang Diana untuk terjun. Apa laki-laki itu tidak tahu niatan Diana berdiri diatap gedung ini? ahh tidak mungkin, anak lima tahun pun tahu apa niatan Diana.

"mas kenapa ketawa?" tanya Diana masih berdiri diujung atap gedung.

laki-laki itu melambai-lambaikkan tangannya seakan-akan menyuruh Diana untuk menunggu dirinya menyelesaikan tawa-nya "mba, mau lompat yah? lagi uji nyali?"

Diana melipat kedua tangannya, hal seperti ini bukan untuk menjadi bahan tertawaan bukan "mas kok ketawain masalah orang sih?"

seketika wajah laki-laki yang sedang tertawa itu berubah menjadi serius "mba, yang punya masalah bukan cuman mba doang, segede apa sih masalah mba?"

Diana membuang wajahnya kesegala arah dirinya ingin bercerita namun airmata nya lebih  dulu keluar dari kantung matanya.

"kalau mba mau cerita sebelum bunuh diri, aku masih mau dengerin loh. siapa tau mba punya wasiat" laki-laki itu menawarkan dengan santai.
Dengan rasa gengsi Diana turun mendekati laki-laki itu, tapi laki-laki itu menyambut Diana dengan senyuman yang begitu tulus.

Laki-laki itu duduk dan Diana mengikutinya “okey pertama kenalin aku Dimas dan ......”
“aku Diana” jawab Diana sambil menghapus airmatanya

“so, kamu kenapa niatan buat bunuh diri?” tanya Dimas dengan hati-hati

Diana terdiam sejenak tersirat dalam benaknya bahwa menceritakan masalahnya dengan laki-laki initidak akan menyelesaikan masalahnya, tapi entah kenapa melihat laki-laki ini tersenyum begitu tulus membuat mulutnya terasa gatal untuk mengatakan keluh kesalnya.

Diana menarik nafas panjang “okey, aku dulunya anak seorang pejabat dan orangtua ku adalah termasuk orang jajaran terkaya tapi beberapa bulan lalu ayah ku menjadi tersangka koruptor, semua harta keluarga-ku diambil dan aku jatuh miskin. Ibu ku meninggal terkena serangan jatung dua minggu yang lalu dan sekarang aku dikejar-kejar rentenir yang dibuat ayah ku dan jumlahnya tidak sedikit, aku tidak bisa lagi menanggung beban hidupku, dan aku tidak punya alasan untuk hidup”

Dimas mengangguk-angguk “memang masalahmu berat sekali, tapi percaya nggak, setiap masalah punya jalan keluar, kamu tidak mengingat ayah mu yang sekarang mendekam dipenjara? Tidak-kah kamu ingin membuat dia bangga?”

Diana tersenyum sinis “untuk apa aku membanggakan orang yang sudah membuat keluargaku menderita?”

“mungkin ayah mu membawa mu ke lubang penderitaan, tapi apakah kamu tidak ingat betapa bahagia nya dulu kamu mempunyai ayah seperti dia? Aku yakin tindakan ayahmu hanya ingin membuat keluarga nya bahagia hanya saja caranya salah, apakah kamu tidak mengingat pelukan hangat yang ayahmu berikan? Apakah kamu tidak ingat alasan ayah mu melakukan hal yang membuat dirinya mendekam dipenjara, apakah kamu fikir dia sekarang bahagia?”

Seketika air mata Diana kembali basah dengan airmata “lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya-nya dalam isak tangis

“hargai kehidupan-mu,masih banyak yang bisa kamu lakukan didunia ini salah satunya adalah membuat ayahmu bangga. Selesaikan satu persatu masalah mu dengan iklas, semua masalah pasti ada jalan keluar tapi tidak dengan mengakhiri hidup dan setelah itu banyak-banyak bersyukur karena tidak semua orang bisa mendapatkan kehidupan yang lama” jawab Dimas sambil melihat kelangit kosong tanpa bintang.

Diana mengangguk-angguk “kamu benar, aku sangat bodoh karena telah berfikir terlalu pendek, aku lupa akan rasa syukur-ku”

Dimas tersenyum bersyukur akhirnya Diana sadar akan nasihatnya.

Lalu Diana menghapus airmatanya “Dim, kamu tinggal diapartment ini juga?”

Dimas menggeleng masih dengan senyuman diwajahnya.

“lalu?” tanya Diana

“kedua orangtua-ku yang tinggal disini, aku ingin mengunjunginya” jawab Dimas singkat

“lalu? Kenapa kamu ke atap?” 

 Dimas menutup matanya “hanya ingin menghirup angin malam yang mungkin entah kapan bisa kuhirup lagi”

Diana bingung “maksudnya?”

“apakah kamu tidak pernah melihat wajahku sebelumnya?” tanya Dimas

Diana mengamati wajah Dimas lalu menggeleng merasa bahwa dirinya tidak pernah melihat Dimas sebelumnya.

Dimas terkekeh “aku yakin kamu tidak pernah menonton berita, sebaiknya kamu masuk ke-apartment mu, beberapa saat lagi mungkin mereka akan menjemputku”

“mereka? Siapa?” tanya Diana bingung

“tunggu saja beritanya” Dimas berdiri dan berjalan menuju pintu tapi sebelum dirinya membuka pintu dia kembali menoleh melihat Diana yang masih duduk dan menatapnya dengan penuh kebingungan “ingat setelah ini semoga kau tidak pernah berniatan buhun diri lagi” lalu Dimas membuka pintu dan hilang dibalik pintu.

Diana masih tidak mengerti apa yang dikatakan laki-laki yang baru 20 menit dia kenal, apa mungkin dia terserang penyakit keras? Tapi dia terlihat sehat-sehat saja. Tapi siapapun dia semua yang dia katakan benar, bahwa Diana kurang menghargai kehidupan.

Tiga  hari berlalu semenjak pertemuan Diana dengan Dimas. Tak ada kabar dari Dimas, bahkan Diana beberapa kali menunggunya diatap gedung tempat pertama kali mereka bertemu namun tidak ada tanda kehadirannya.

Akhirnya Diana mengingat perkataan Dimas untuk menunggu-nya di kabar berita. Diana menghidupkan televisi nya dan memeriksa semua channel berita. Diana terus menunggu sang pembawa berita mengabarkan berita-berita dan pada akhirnya sang pembawa berita menyebutkan nama Dimas.

Namun ini bukan berita bahagia, ternyata Dimas adalah tersangka penyebaran narkoba yang telah dieksekusi dua hari yang lalu. Diana tersentak, orang sebaik Dimas meninggal dengan cara dieksekusi mati?

Jadi ini maksud dari semua perkataan Dimas untuk lebih menghargai hidup. Diana sadar bahwa masih banyak orang-orng yang ingin hidup dengan impian dikepala mereka namun mereka tidak bisa. Diana yang sangat bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik justru ingin mendekati kematian. Masalah yang dirinya hadapi tidak sebanding dengan masalah-masalah orang diluar sana. Bersyukur adalah kunci untuk menjalani kehidupan dengan bahagia