Kisah ini tertulis disebuah buku tua yang ditulis dengan keyakinan, harapan dan penantian.
...................................................................................................................................................
Keyakinanku
berkata penantian ini akan berakhir esok hari, aku selalu berkata bahwa
penantianku akan berakhir ketika aku membuka mata dipagi hari. Keyakinanku
berkata tunggulah dia, aku selalu berkata ‘akan kutunggu, karena kuyakin’. Keyakinanku
berkata semua akan indah pada waktunya, aku berkata ‘momen bahagia itu akan
datang’.
Namun
hari ini keyakinanku hilang, bertahun-tahun aku mempercayainya namun kandas
dalam waktu yang tidak lebih dari satu kedipan mataku.
Terlalu
klise jika harus mengatakan aku mengingatmu dalam setiap hariku, terlalu klise
jika harus mengatakan ‘kuselipkan namamu disetiap doaku’, hanya satu yang
kulakukan sampai saat ini menutup hati dari orang-orang yang mencoba
membukanya, namun aku tidak pernah membukanya. Karena pada dasarnya aku yakin,
hanya ada satu kunci untuk membukannya.
Aku
bukan gadis yang pintar, bahkan aku mengakui kebodohanku untuk hal yang tidak pasti. Dua hal yang
selalu kupegang saat aku tersadar kesempatan itu tidak akan datang “keadaan yang bersalah
mempertemukan dua manusia disaat yang tidak tepat” atau “aku menyia-nyiakan
kesempatan yang dulu berkali-kali datang”
............................................................................................................
HAri
ini akan kututup dan kukubur buku itu. Aku akan membuat kisah baru dengan kisah
ceria tentang pencarian bukan penantian, akan kutulis dengan tawa bukan dengan
tetesan airmata, akan ku lukis sehingga tidak menjadi buku yang membosankan.
Dan
untuk buku tua yang selalu bersamaku selama beberapa tahun ini, terimakasih
telah memberikan kenangan dan pelajaran yang berarti, aku menguburmu bukan
karena aku membenci sosokmu akan tetapi aku menguburmu untuk belajar
melupakanmu.
0 komentar:
Posting Komentar