Senin, 04 Agustus 2014

Sebuah Buku Tua

Kisah ini tertulis disebuah buku tua yang ditulis dengan keyakinan, harapan dan penantian.

...................................................................................................................................................

Keyakinanku berkata penantian ini akan berakhir esok hari, aku selalu berkata bahwa penantianku akan berakhir ketika aku membuka mata dipagi hari. Keyakinanku berkata tunggulah dia, aku selalu berkata ‘akan kutunggu, karena kuyakin’. Keyakinanku berkata semua akan indah pada waktunya, aku berkata ‘momen bahagia itu akan datang’.
                Namun hari ini keyakinanku hilang, bertahun-tahun aku mempercayainya namun kandas dalam waktu yang tidak lebih dari satu kedipan mataku.
                Terlalu klise jika harus mengatakan aku mengingatmu dalam setiap hariku, terlalu klise jika harus mengatakan ‘kuselipkan namamu disetiap doaku’, hanya satu yang kulakukan sampai saat ini menutup hati dari orang-orang yang mencoba membukanya, namun aku tidak pernah membukanya. Karena pada dasarnya aku yakin, hanya ada satu kunci untuk membukannya.
                Aku bukan gadis yang pintar, bahkan aku mengakui kebodohanku  untuk hal yang tidak pasti. Dua hal yang selalu kupegang saat aku tersadar kesempatan itu  tidak akan datang “keadaan yang bersalah mempertemukan dua manusia disaat yang tidak tepat” atau “aku menyia-nyiakan kesempatan yang dulu berkali-kali datang”

............................................................................................................


                HAri ini akan kututup dan kukubur buku itu. Aku akan membuat kisah baru dengan kisah ceria tentang pencarian bukan penantian, akan kutulis dengan tawa bukan dengan tetesan airmata, akan ku lukis sehingga tidak menjadi buku yang membosankan.

                Dan untuk buku tua yang selalu bersamaku selama beberapa tahun ini, terimakasih telah memberikan kenangan dan pelajaran yang berarti, aku menguburmu bukan karena aku membenci sosokmu akan tetapi aku menguburmu untuk belajar melupakanmu.

0 komentar:

Posting Komentar