Rabu, 05 November 2014

DIFFERENT PERSON, DIFFERENT STORY

Aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari, aku juga tidak bisa menebaknya dengan pasti. Kehidupan memeberikan kejutan-kejutannya yang tak pernah kusangka, kadang ditengah kesulitan aku diberikan kemudahan dan sebaliknya saat aku diberi kemudahan aku setelah itu aku diberi cobaan.
                Dulu saat dimasa SD aku adalah seorang anak pindahan yang bisa dikatakan kurang pergaulan dan tidak berani mengatakan apa yang ingin kukatakan, akibatnya aku menjadi korban bully-an saat SD dan aku benci saat harus mengingat hal itu karena yang mereka lakukan bukanlah hal yang ingin sama sekali aku ingat, namun disaat aku merasa sendiri dengan semua caci makian mereka datang seorang teman yang tidak ingin kusebut namanya dan seorang junior perempuan yang juga menjadi tetanggaku. Mereka sama-sama menemaniku dalam kesusahan namun mereka memiliki perbedaan.
                Ya mereka menyelamatkanku dari bully dan mereka menjadi sahabatku.  Junior perempuan yang aku ceritakan dia adalah seorang yang bisa dikatakan gadis yang berani, saat aku terpojok oleh kawan-kawan sebayaku dengan beraninya dia bisa meneriaki mereka untuk pergi dan kata-kata yang paling kuingat darinya adalah “jangan takut! Mereka semua pembohong”. Dari saat itu aku sering bermain dengannya, namun pertemanan kami tak  berlangsung lama karena dia harus pindah kedaerah yang cukup jauh dan sejak saat itu aku tidak tau bagaimana kabarnya.
                Sahabat … ahh tidak maksudku adalah teman yang menyelamatkanku dari bullying adalah teman sekelasku, bahkan dia rela menjadi teman sebangkuku agar aku tidak merasa dijauhi. Ya hampir setiap hari kami melakukan hal bersama-sama, mengerjakan tugas, bermain boneka Barbie layaknya anak perempuan pada umurnya, bahkan kami merayakan ulangtahun kami berdua. Namun sayang pertemanan kami merenggang saat aku memasuki sekolah menengah pertama, karena sesuatu hal sepertinya dia tidak ingin berteman denganku dan aku mengetahui hal itu dari sahabat barunya, terdengar kekanan-kanakan tapi memang cukup menyakitkan. Dan aku merahasiakan kenangan pertemanan kami sampai aku duduk dibangku SMA. Kami sekolah ditempat yang sama tapi kami bertindak seolah baru  kenal sehari.
               
               
                Pada akhirnya aku menyadari semua orang yang ada didekatku akan datang dan pergi darimaka itu aku tidak bisa terlalu menggenggam erat mereka karena mereka akan pergi saat aku tidak ingin melepaskannya.


Cerita ini bukan cerita pribadi penulis melainkan didiadopsi dari seorang teman berinisial M.N

0 komentar:

Posting Komentar