angin kencang menerpa tubuh
Diana sehingga menggoyahkan tubuhnya, Diana mencoba untuk meyeimbangkan
tubuhnya, jika saja dia tidak berdiri dengan benar mungkin saja nyawa nya
adalah taruhannya.
diana menutup matanya
merasakan belaian dingin angin malam, apakah ini keputusan yang tepat tanya
batinnya, masih adakah sedikit kesempatan untuknya. Perlahan Diana membuka
matanya dan melihat keindahan malam dari atap gedung apartment-nya yang
berlantai 30 ini, apakah ini terakhir kalinya dirinya melihat keindahan
lampu-lampu kota Jakarta?
Ia menarik napas
dalam-dalam meyakini bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk pergi dari
kehidupan dunia yang sangat kejam ini. Diana mulai melangkahkan kaki-nya mendekati
dinding pembatas dan bersiap untuk melompat. Namun terdengar suara laki-laki
tertawa, apa mungkin malaikat maut sudah datang padanya?
suara laki-laki itu semakin
jelas terdengar, Diana menoleh dan melihat sesosok laki-laki dengan kemeja
putih yang tidak begitu ketat ditubuhnya, laki-laki itu terus tertawa
terbahak-bahak. Diana bertanya-tanya apakah laki-laki itu tengah
menertawakannya? Tapi kenapa dia harus tertawa, bukannya seharusnya laki-laki
itu melarang Diana untuk terjun. Apa laki-laki itu tidak tahu niatan Diana
berdiri diatap gedung ini? ahh tidak mungkin, anak lima tahun pun tahu apa
niatan Diana.
"mas kenapa
ketawa?" tanya Diana masih berdiri diujung atap gedung.
laki-laki itu
melambai-lambaikkan tangannya seakan-akan menyuruh Diana untuk menunggu dirinya
menyelesaikan tawa-nya "mba, mau lompat yah? lagi uji nyali?"
Diana melipat kedua
tangannya, hal seperti ini bukan untuk menjadi bahan tertawaan bukan "mas
kok ketawain masalah orang sih?"
seketika wajah laki-laki
yang sedang tertawa itu berubah menjadi serius "mba, yang punya masalah
bukan cuman mba doang, segede apa sih masalah mba?"
Diana membuang wajahnya
kesegala arah dirinya ingin bercerita namun airmata nya lebih dulu keluar
dari kantung matanya.
"kalau mba mau cerita sebelum
bunuh diri, aku masih mau dengerin loh. siapa tau mba punya wasiat"
laki-laki itu menawarkan dengan santai.
Dengan
rasa gengsi Diana turun mendekati laki-laki itu, tapi laki-laki itu menyambut
Diana dengan senyuman yang begitu tulus.
Laki-laki
itu duduk dan Diana mengikutinya “okey pertama kenalin aku Dimas dan ......”
“aku
Diana” jawab Diana sambil menghapus airmatanya
“so,
kamu kenapa niatan buat bunuh diri?” tanya Dimas dengan hati-hati
Diana
terdiam sejenak tersirat dalam benaknya bahwa menceritakan masalahnya dengan
laki-laki initidak akan menyelesaikan masalahnya, tapi entah kenapa melihat
laki-laki ini tersenyum begitu tulus membuat mulutnya terasa gatal untuk
mengatakan keluh kesalnya.
Diana
menarik nafas panjang “okey, aku dulunya anak seorang pejabat dan orangtua ku
adalah termasuk orang jajaran terkaya tapi beberapa bulan lalu ayah ku menjadi
tersangka koruptor, semua harta keluarga-ku diambil dan aku jatuh miskin. Ibu
ku meninggal terkena serangan jatung dua minggu yang lalu dan sekarang aku
dikejar-kejar rentenir yang dibuat ayah ku dan jumlahnya tidak sedikit, aku
tidak bisa lagi menanggung beban hidupku, dan aku tidak punya alasan untuk
hidup”
Dimas
mengangguk-angguk “memang masalahmu berat sekali, tapi percaya nggak, setiap
masalah punya jalan keluar, kamu tidak mengingat ayah mu yang sekarang mendekam
dipenjara? Tidak-kah kamu ingin membuat dia bangga?”
Diana
tersenyum sinis “untuk apa aku membanggakan orang yang sudah membuat keluargaku
menderita?”
“mungkin
ayah mu membawa mu ke lubang penderitaan, tapi apakah kamu tidak ingat betapa
bahagia nya dulu kamu mempunyai ayah seperti dia? Aku yakin tindakan ayahmu
hanya ingin membuat keluarga nya bahagia hanya saja caranya salah, apakah kamu
tidak mengingat pelukan hangat yang ayahmu berikan? Apakah kamu tidak ingat
alasan ayah mu melakukan hal yang membuat dirinya mendekam dipenjara, apakah
kamu fikir dia sekarang bahagia?”
Seketika
air mata Diana kembali basah dengan airmata “lalu apa yang harus aku lakukan
sekarang?” tanya-nya dalam isak tangis
“hargai
kehidupan-mu,masih banyak yang bisa kamu lakukan didunia ini salah satunya
adalah membuat ayahmu bangga. Selesaikan satu persatu masalah mu dengan iklas,
semua masalah pasti ada jalan keluar tapi tidak dengan mengakhiri hidup dan
setelah itu banyak-banyak bersyukur karena tidak semua orang bisa mendapatkan
kehidupan yang lama” jawab Dimas sambil melihat kelangit kosong tanpa bintang.
Diana
mengangguk-angguk “kamu benar, aku sangat bodoh karena telah berfikir terlalu
pendek, aku lupa akan rasa syukur-ku”
Dimas
tersenyum bersyukur akhirnya Diana sadar akan nasihatnya.
Lalu Diana
menghapus airmatanya “Dim, kamu tinggal diapartment ini juga?”
Dimas
menggeleng masih dengan senyuman diwajahnya.
“lalu?”
tanya Diana
“kedua
orangtua-ku yang tinggal disini, aku ingin mengunjunginya” jawab Dimas singkat
“lalu?
Kenapa kamu ke atap?”
Dimas menutup matanya “hanya ingin menghirup
angin malam yang mungkin entah kapan bisa kuhirup lagi”
Diana
bingung “maksudnya?”
“apakah
kamu tidak pernah melihat wajahku sebelumnya?” tanya Dimas
Diana
mengamati wajah Dimas lalu menggeleng merasa bahwa dirinya tidak pernah melihat
Dimas sebelumnya.
Dimas
terkekeh “aku yakin kamu tidak pernah menonton berita, sebaiknya kamu masuk
ke-apartment mu, beberapa saat lagi mungkin mereka akan menjemputku”
“mereka?
Siapa?” tanya Diana bingung
“tunggu
saja beritanya” Dimas berdiri dan berjalan menuju pintu tapi sebelum dirinya
membuka pintu dia kembali menoleh melihat Diana yang masih duduk dan menatapnya
dengan penuh kebingungan “ingat setelah ini semoga kau tidak pernah berniatan
buhun diri lagi” lalu Dimas membuka pintu dan hilang dibalik pintu.
Diana
masih tidak mengerti apa yang dikatakan laki-laki yang baru 20 menit dia kenal,
apa mungkin dia terserang penyakit keras? Tapi dia terlihat sehat-sehat saja. Tapi
siapapun dia semua yang dia katakan benar, bahwa Diana kurang menghargai
kehidupan.
Tiga hari berlalu semenjak pertemuan Diana dengan Dimas.
Tak ada kabar dari Dimas, bahkan Diana beberapa kali menunggunya diatap gedung tempat
pertama kali mereka bertemu namun tidak ada tanda kehadirannya.
Akhirnya
Diana mengingat perkataan Dimas untuk menunggu-nya di kabar berita. Diana
menghidupkan televisi nya dan memeriksa semua channel berita. Diana terus
menunggu sang pembawa berita mengabarkan berita-berita dan pada akhirnya sang
pembawa berita menyebutkan nama Dimas.
Namun ini
bukan berita bahagia, ternyata Dimas adalah tersangka penyebaran narkoba yang
telah dieksekusi dua hari yang lalu. Diana tersentak, orang sebaik Dimas
meninggal dengan cara dieksekusi mati?
Jadi ini
maksud dari semua perkataan Dimas untuk lebih menghargai hidup. Diana sadar
bahwa masih banyak orang-orng yang ingin hidup dengan impian dikepala mereka
namun mereka tidak bisa. Diana yang sangat bisa menjalankan kehidupan yang
lebih baik justru ingin mendekati kematian. Masalah yang dirinya hadapi tidak
sebanding dengan masalah-masalah orang diluar sana. Bersyukur adalah kunci
untuk menjalani kehidupan dengan bahagia
2 komentar:
Goodstory😍😍
thank u :)
Posting Komentar