Minggu, 02 Februari 2014

Cinta Dua Sisi

                                                
 “Farah….. kemari” mama memanggilku seperti biasanya dengan teriakan khasnya
Aku hanya bisa berdiri dihadapannya tanpa berbicara ataupun menjawab panggilannya
“Farah, mama akan pulang  pagi, kamu jangan lupa kunci rumah, jangan lupa belajar dan jangan tidur larut malam” mama memerintahku setiap malam ketika dia ingin pergi dan seperti biasa aku hanya mengangguk dan meninggalkannya kekamar tanpa menoleh ataupun bertanya kemana dia akan pergi.
“Farah…..” sepertinya ia kembali memanggilku, aku menoleh dan menatapnya dengan sorot mata yang menyebalkan
“apa?” aku mencoba mempersingkat pembicaraanku dengannya
“Farah, pergilah tidur, kalau kau sakit aku yang repot” ia pun pergi berlalu hilang dibalik pintu
“sepertinya dia terpaksa merawatku” desahku sambil kembali menaiki anak tangga
aku menyenderkan kepalaku dimeja belajar, setiap malam aku selalu bergulat dengan pikiranku dan selalu tentang mama, ia membuat hidupku sunyi, gelap dan tanpa cahaya. Setiap malam ia akan pergi dengan dandanan yang mencolok dan akan kembali dipagi hari dengan penampilan berantakan.
Terkadang aku merasa dunia ini tidak adil karena hidupku tak sebahagia Dian sahabatku yang juga tetanggaku, ia mempunyai orangtua yang lengkap dan mama yang baik seperti tante Jihan, tidak jarang tante Jihan  menyuruhku untuk sarapan pagi bersama keluarganya karena tante Jihan tahu betul tentang keluargaku,tante Jihan adalah sahabat mama dari mereka SMA.
Tok..tok….
Terdengar seperti ada yang mengetuk pintu kamarku, dan aku sudah biasa akan hal itu karena aku tahu  Dian pasti sedang berada didepan kaca jendelaku dengan tangga milik pak Usman tukang kebun tante Jihan, aku membuka jendela dan sudah terlihat senyum mengembang Dian yang bersiap-siap memanjat jendela kamarku.
“Farah, please gue hari ini nginep lagi yanh dirumah lo? Gue mau nonton drama Korea terbaru nih secret garden, tapi nyokap gue pasti ngomel-ngomel kalau gue begadang nonton film, gue nginep disini yah?” seperti biasa Dian selalu menginap dirumahku ketika dia sedang ingin menonton drama-drma Koreanya
“oke, tapi inget jangan buang-buang tissue yah buat ngelap air mata lo” setiap Dian menonton drama Korea dia akan menangis dan menghabiskan tissue atau menghapus air matanya dengan sselimutku
“tenang aja gue udah nyiapin tissue dari rumah” Dian menunjukan kotak tissue miliknya
Sementara Dian sedang sibuk dengan drama Koreanya, aku mencoba tidur dan melupakan problema hidupku

“Dian, Farah bangun” aku mendengar suara lembut yang sedang membelai kepalaku, aku membuka mataku terlihat sosok manis tante Jihan
“Farah ayo bangun nak, nanti kamu telat kesekolah. Maaf yah tante masuk kamar kamu tanpa permisi soalnya pintu depan gak terkunci sepertinya mama kamu udah pulang dan kalian susah banget dibangunin” jelas tante Jihan sambil membereskan tissue yang berserakan yang dibuat anaknya Dian
“iya gak apa-apa tante”aku selalu senang diperhatikan tante Jihan, Dian beruntung sekali mempunyai mama sebaik tante Jihan
Setelah Dian dan tante Jihan pulang aku bersiap-siap berangkat kesekolah dan seperti biasa aku selalu membawa MP3 player hadia yang diberikan tante Jihan saat aku berulangtahun yang ke18, setelah semua siap aku segera mempercepat langkahku untuk sarapan bersama keluarga tante Jihan.
Aku menuruni anak tangga dan mendengar suara-suara bising dari dapur, rasa penasaran menyelubungi batinku yang membuat kakiku melangkah kedapur. Aku melihat mama sedang memasak dengan rokok dimulutnya, mama seperti sadar aku perhatikan ia menoleh kepadaku dan aku salah tingkah dengan situasi ini.
“Far, mama masakin kamu nasi goreng” mama masih mengaduk nasi gorengnya dengan rokok dimulutnya
“aku mau sarapan dirumah tante Jihan” aku membalikan tubuhku dan meninggalkan mama didapur, perasaanku bercampur aduk setiap kali melihat mama dengan rokoknya entahlah yang jelas aku berfikir aku bahagia tanpa mama.
“ayo Farah susu kamu sudah mulai dingin tuh” tante Jihan menyodorkan segelas susu padaku
“makasih tante” aku selalu bahagia bersama keluarga ini dengan Dian,tante Jihan, om Roy
 “bagaimana mama kamu Farah? Apa dia masih begitu?” tante Jihan yang sedang menemaniku sarapan bertanya soal mama
“mama masih seperti biasa, menyebalkan dan tentu saja menyedihkan” jawabku asal
Om Roy dan tante Jihan saling berpandangan “jangan berbicara seperti itu Farah, bagaimanapun dia tetap mamamu?” om Roy mencoba menenangku
Aku hanya mengangkat bahuku, Karena aku sedang tidak ingin merusak kebahagiaanku saat ini karena membicarakan tentang mama
Mama merupakan mimpi buruk untukku aku berhrap aku tidak pernah mempunyai mama seperti dia, dia menyebalkan dan yang jelas aku tidak suka pekerjaannya yang seorang wanita penghibur
Aku berjalan menyusuri lantai dengan malas, aku sama sekali tidak mendengerkan Dian mengoceh tentang drama yang ia tonton semalam,
Fikiranku melayang pada mama. Bagaimana perasaan mama tadi saat aku lebih memilih  untuk sarapan dirumah tante Dian, ini pertama kalinya semenjak aku duduk di Taman Kanak-kanak mama membuat sarapan untukku lagi.
Aku duduk dan meletakkan tasku diatas meja dan menopang wajahku dengan satu tangan, fikiranku masih melayang-layang, tiba-tiba saja aku merasa seseorang memperhatikanku dari sudut mataku,  Ryo sedang memperhatikanku? Apakah aku hanya kepedean? Aku melihat kesekeliling kelas, hanya aku dan Rio? Kemana yang lain?. Aku mencoba tersenyum Ryo membalas senyumanku “lo gak ikut latihan upacara?”
“Apa? latihan upacara kok gak ada yang ngasih tau gue yah?”
“tadi Dian manggil lo dari depan kelas cuman lo nya gak denger jadi dia tinggal” Ryo menjawab sambil membaca bukunya
“lo gak latihan Yo?” aku memberanikan diri berjalan mendekat Ryo, ini pertama kalinya aku mencoba mendekatinya dalam radius satu meter.
“engga” Ryo menoleh kearahku dan tersenyum, “astaga Tuhan senyumnya” aku berseru sendiri didalam hatiku
Tiba-tiba Ryo beranjak dari kursinya “kalau lo ada masalah sebaiknya lo ceritain jangan dipendem sendiri yah? Kalau lo mau gue bisa bantu lo” Ryo merobek bukunya dan menuliskan sesuatu “nih” setelah memberikan kertas itu ia pergi
Aku menatap punggungnya hingga bayangannya hilang dibalik pintu aku begitu penasaran dengan kertas yang kupegang saar ini perlahan aku membuka kertas itu dan ya Tuhan dia memberikanku nomor handphone nya, tapi apa aku harus memberitahu Dian? Kurasa tidak perlu pasti kami akan bertengkar karena Ryo, lebih baik aku menyimpan cerita ini sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang senyumanku tak pudar sedikitpun, saat aku ingin membuka pintu rumahku, aku seperti mendengar suara mama sedang merintih kesakitan, aku berjalan pelan menuju arah suara itu, suara itu berasaldari dapur semakin aku mendekat semakin kencang suara rintihan mama.
Betapa terkejutnya aku melihat mama sedang tergeletak dilantai dan hidungnya mengeluarkan darah, ini pertama kalinya aku merasakan panic seperti ini, aku berlari ingin membantu mama namun langkahku terhenti.
“berhenti disana! Jangan dekati saya” mama melarangku membantunya dengan tatapan yang nanar. Mama berusaha berdiri sendiri dengan susah payah, namun alhasil badan mama jatuh lunglai tak sadarkan diri
 


                                                           
“mama…” suara tangisanku memenuhi lorong rumah sakit, mama dirawat diruang Unit Gawat Darurat sudah satu jam tapi kenapa dokter tidak keluar juga dan memberitahu keadaan mama.
Tiba-tiba terdengar suara Dian, tante Jihan dan Om Roy memanggil namaku, tante Jihan memelukku dan aku tak kuasa meleburkan tangisanku didalam dekapan tante Jihan, selang beberapa menit kemudian seseorang laki-laki tua dengan jas putih keluar dari ruang unit gawat darurat, tanpa sadar aku berlari kearah dokter itu berdiri “dok gimana keadaan mama? Apa yang terjadi?”
Dokter itu menjawab dengan tenang “kemungkinan besar mama kamu sudah lama mengidap HIV aids tapi tidak pernah memeriksa atau menindaklanjuti penyakit ini, dan sekarang pertahanan tubuhnya sudah sangat menipis”
Jantungku terasa terhantam kakiku lemas otakku tak dapat berfikir dan mulutku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata ingin rasanya aku mencaci maki dokter tua ini, aku yakin bahwa ia berbohong namun apa daya aku tak mempunyai kekuatan untuk mengatakannya dan sekarang mataku perlahan menjadi gelap dan aku tidak dapat melihat siapapun dan akhirnya tak sadarkan diri.
Aku merasakan kepalaku seperti habis terbentur benda tumpul, badanku terasa sakit, dan mataku sangat berat untuk dibuka, aku berada dikamarku? Apa aku semalam bermimpi? Aku selalu berharap begitu namun harapan itu kandas karena tante Jihan dengan mata sembab datang kekamarku.
“Farah, kamu harus kuat supaya mama kamu juga kuat yah saying, semalam kamu pingsan dan tante piker kamu lebih baik tenang sesaat dirumah”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi aku hanya bisa menggenggam tangan tante Jihan
“sebaiknya kamu sarapan sekarang, tante udah siapin sarapan. Oiya kamu gausah khawatir dirumah sakit om Roy yang jagain mama kamu, setelah selesai sarapan nanti kita kerumah sakit” tante Jihan hilang dibalik pintukamarku.
Aku menuruni anak tangga, ketakutan menggeliat dibatinku biasanya saat aku turun mama sedang merokok diruangtamu dengan gaya khas nya dan sekarang aku hanya melihat asbak kosong yang bersih, aku menoleh kekamar mama yang pintunya tidak tertutup rapat, rasa penasaran menyeruak dihatiku karena aku sama sekali tidak pernah memasuki ruangan yang menurutku asing tersebut.
Aku membuka pintu kamar mama, aku mencium wangi khas parfume mama. Lalu aku berjalan mendekati lemari mama dan membukanya, aku melihat sebuah buku, tak sabar aku membukanya
Halaman pertama ada foto mama bersamaku dan menurutku ini terakhir kali kami berfoto bersama, aku membuka halaman berikutnya.


30 Desember 2006
“tuhan cobaan terberat dalam hidup saya adalah menjadi seorang penderita HIV, aku akan kehilangan segalanya, bahkan karena penyakit ini aku tidak dapat memluk putri kesayanganku Farah, selama ini aku selalu menghindar darinya aku takut dia terkena penyakit menjijikan ini, aku sudah cukup mengahncurkan masa remajanya, apakah ini teguranmu tuhan?
21 Januari 2012
“Farah sayang maafin mama yah, kamu pasti malu tadi mama jemput disekolah, maafin mama kalau mama seorang pelacur sayang, tapi semua ini mama persiapin buat kamu, kamu harus menjadi yang terbaik agar tidak seperti mama, oiya hari ini kamu terlihat cantik sayang, kamu memakai gaun kepesta ulangtahun Dian, mama ingin sekali memeluk kamu, bagaimana rasanya memeluk anak mama yang udah beranjak dewasa”
4 Februari 2012
“hari ini kamu menghiraukan mama lagi sayang, Farah kamu bukan anak haram sepertiyang dicerotakan orang-orang, kamu punya ayah namun ayah kamu meninggalkan kamu saat kamu bayi dan hal itu yang menyebabkan mama menjadi wanita penghibur, tapi bagaimana mama menjelaskannya sayang”
7 Maret 2012
“tuhan dengan siapa aku berbagi rasa sakit ini, badanku terasa lelah harus menahan sakit ditubuhku, tadi siang Farah hampir melihatku tak berdaya tapi aku malah memarahinya saat ia ingin membantuku, aku tidak mau dia menyentuh tubuhku yang menjijikan ini”
19 Agustus 2012
“selamat ulang tahun Farah sayang, mama mendoakan yang terbaik untuk kamu dan doa mama selalu menyertai kamu, mama udah nyiapin kado yang mama titipin ke tante Jihan, sebuah Ipod kamu suka nyanyi kan sayang, tapi mama gak mau kamu tau itu hadiah dari mama, karena kamu pasti akan menolaknya, Happy birthday my Little Angle”
Aku tidak kuat lagi untuk membacanya, aku memeluk dengan erat buku harian mama. Tanpa berfikir panjang aku mengambil kunci mobil dan menuju rumah sakit.
Aku membuka pintu kamar rumah sakit yang dingin perlahan, aku melihat mama sedang menatap bebas keluar jendela, mama menoleh kearahku dengan tatapan bingun namunsepertinya mama menyadari aku memegang diary nya.
Mama tersenyum pilu “mama gak apa-apa sayang”
Tanpa berfikir panjang aku memeluk mama dengan erat “mama, aku gak peduli mama itu siapa? Perkerjaan mama apa, aku cuman mau mama tetap disini, aku cuman mau mama, gak ada yang aku pinta ma”
Rasanya hangat sekali memeluk mama seperti ini walaupun menyesakan namun belaian mama membuat aku tenang “sayang, mama punya permintaan boleh?”
Aku mengangkat kepalaku dan melihat mama yang masih tersenyum “apa ma?”
“nyanyikan sebuah lagu untuk mama, tapi sesudah kamu bernyanyi kamu harus membaca diari halaman terakhir mama yah sayang” mama kembali membelai rambutku
Aku mengangguk dan mulai bernyanyi
“apa yang kuberikan untuk mama, untuk mama tersayang, tak kumiliki sesuatu berharga untuk mama tercinta, janya ini kunyanyikan lagu cintaku hanya untuk mama hanya sebuah lagu sederhana…..” tiba-tiba aku mendengar alat deteksi jantung mama sudah tidak berjalan lagi dan saat itu aku menyadari mama telat pergi.
Setelah pemakaman mama selesai, aku membuka halaman terakhir dari diary mama
2 Februari 2013
“Farah hal yang membahagiakan untuk mama adalah memiliki kamu, kamu terus bernyanyi dan kamu berada dipangkuan mama. Farah, mama sayang sama kamu melebihi diri mama sendiri tapi mama tidak bisa mengungkapkan itu karena mama tau hal ini pasti terjadi, mama akan pergi meninggalkanmu, tapi satu pesan mama cinta itu harus diungkapkan, agar kamu tau bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang jangan seperti mama yang terlalu takut kehilangan kamu karena terlalu menyayangi kamu, dankamu selalu menjadi yang terbaik untuk mama”

Setelah itu aku tahu, mama bagian terpenting hidupku, panutan hidupku dan cintaku untuk mama akan abadi.

0 komentar:

Posting Komentar